Menjinakkan Dentuman ‘Horeg’ dengan Data: Kisah Andi Surya dan Peta Digital Penangkal Polusi Suara

SuaraNasional – Fenomena sound horeg—parade truk bermuatan puluhan pengeras suara raksasa—telah lama menjadi komoditas hiburan kultural sekaligus pemicu gesekan sosial yang hebat di berbagai penjuru Jawa Timur. Di satu sisi, ia adalah pesta rakyat; di sisi lain, ia adalah teror kebisingan bagi warga yang membutuhkan ketenangan.

Bergerak dari keresahan nyata tersebut, Andi Surya (24), seorang pemuda kreatif asal Sukun, Kota Malang, berhasil menciptakan sebuah terobosan teknologi tepat guna yang dinamakan Soundhoreg Early Warning System (EWS). Melalui platform digital yang dapat diakses di laman soundhoreg-ews.pages.dev, Andi menawarkan sebuah jalan tengah yang cerdas: memetakan pergerakan dentuman bass agar masyarakat dapat melindungi diri mereka sendiri secara preventif.

Navigasi Berbasis GPS: Membaca Radius Bahaya Desibel

Ide pembuatan platform ini muncul murni dari pengalaman pribadi Andi yang kerap merasa tidak nyaman dengan paparan suara berintensitas tinggi saat karnaval melintas. Memanfaatkan data jadwal acara yang tersebar secara acak di media sosial, Andi mengurasi dan memasukkan data tersebut ke dalam sistem database peta digital miliknya.

Sistem navigasi GPS ini bekerja secara otomatis dengan dua fitur unggulan yang sangat interaktif:

  1. Visualisasi Zonasi Radius: Peta akan memunculkan lingkaran radius bahaya di sekitar titik acara berdasarkan kalkulasi tingkat kebisingan ekstrem yang diproyeksikan mencapai 100 hingga 135 desibel (dB).
  2. Fitur ‘Cek Posisi Kita’: Pengguna cukup mengaktifkan GPS pada gawai mereka untuk mendeteksi secara instan apakah rumah atau posisi terkini mereka masuk dalam zona merah paparan suara atau berada di zona aman.

Sejak pertama kali diunggah ke media sosial, inovasi ini langsung viral dan diserbu oleh puluhan ribu pengunjung unik. Validasi pasar yang masif ini membuktikan bahwa ada kebutuhan mendesak dari masyarakat luas—sebuah silent majority—terhadap kepastian informasi spasial mengenai keberadaan sound horeg.

Urgensi Medis: Mengapa Peringatan Dini Ini Krusial?

Sambutan luar biasa terhadap aplikasi ini tidak lepas dari fakta medis mengenai bahaya nyata di balik dentuman sound horeg. Kekuatan suara sebesar 100 hingga 135 desibel setara dengan mendengarkan mesin jet lepas landas dari jarak dekat.

Secara klinis, paparan suara di atas 85 desibel dalam jangka waktu tertentu berpotensi memicu Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) atau tuli permanen akibat rusaknya sel rambut sensitif pada koklea. Pada puncaknya di angka 135 desibel, getaran mekanis yang dihasilkan bahkan sanggup memicu trauma akustik berupa robeknya gendang telinga.

Dampak non-pendengaran justru jauh lebih mengkhawatirkan bagi kelompok rentan. Dentuman bass frekuensi rendah secara konstan merangsang produksi hormon kortisol dan adrenalin secara berlebih, memicu lonjakan tekanan darah (hipertensi) mendadak, serta meningkatkan risiko serangan jantung fatal bagi lansia. Bagi bayi dan balita, suara sekencang ini dapat menyebabkan trauma psikologis berat dan gangguan perkembangan sensorik.

Menjembatani Celah Regulasi di Lapangan

Di atas kertas, pemerintah daerah dan kepolisian di Jawa Timur sebenarnya telah merilis Surat Edaran (SE) ketat yang membatasi ambang batas kebisingan maksimal di angka 60 dB untuk pemukiman dan toleransi hingga 85 dB untuk ruang publik, serta batas operasional hingga pukul 22.00 WIB. Pihak berwenang bahkan tidak segan melakukan penyitaan genset dan armada truk jika pelanggaran memicu kerusakan fisik fasilitas umum.

Namun, keterbatasan pengawasan di lapangan membuat implementasi aturan ini kerap bocor. Di sinilah aplikasi Soundhoreg EWS milik Andi mengambil peran krusial. Ketika hukum belum sepenuhnya bisa membendung suara di lapangan, aplikasi ini hadir sebagai perisai informasi digital bagi warga untuk melakukan evakuasi mandiri, mengamankan anggota keluarga yang sakit, atau sekadar memutar arah jalur perjalanan demi menghindari kemacetan dan polusi suara.

Langkah Strategis ke Depan

Melihat antusiasme yang luar biasa serta besarnya dampak sosial yang dihasilkan, Andi Surya kini tidak berpuas diri pada platform berbasis web. Pemuda Malang ini tengah bersiap melakukan ekspansi besar dengan mengembangkan proyek ini ke dalam bentuk aplikasi seluler (mobile application) terintegrasi.

Dengan rencana pengembangan tersebut, ke depan masyarakat diharapkan dapat saling berbagi laporan secara real-time (user-generated content), memperkuat akurasi pemetaan, dan menjadikan teknologi ini sebagai instrumen harmonisasi sosial yang modern di tengah dinamika tradisi budaya lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *