SuaraNasional — “Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain, tidak ada yang melarang.” Pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya yang menyentuh narasi pesimisme publik itu kini menemukan bentuk nyata di lapangan. Di tengah menguatnya retorika politik yang terkesan “mengusir” tersebut, muncul laporan tren eksodus talenta muda yang memilih menanggalkan paspor Garuda. Fenomena ini bukan lagi sekadar persoalan administratif keimigrasian, melainkan sinyal lampu merah bagi daya saing bangsa ketika negara justru memperlihatkan gestur lepas tangan terhadap potensi anak bangsanya.
Lonjakan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk pelepasan status WNI hingga Rp5.000.000 (naik 500% dari tarif lama) seolah menjadi “tiket perpisahan” resmi yang ditetapkan pemerintah bagi mereka yang kecewa. Kebijakan ini dinilai sejumlah pengamat sebagai sikap gampang menyerah. Ketika ribuan profesional muda di bidang teknologi, keuangan, dan sains memilih pindah kewarganegaraan—terutama menuju negara tetangga seperti Singapura—pemerintah bukannya membenahi iklim dalam negeri, melainkan sekadar membuka pintu tol resmi untuk membiarkan brain drain terus terjadi.
Fenomena ini memperjelas jurang pemisah (gap) antara ekspektasi masyarakat terhadap perbaikan kualitas hidup dengan respons retoris penguasa. Daripada membangun ekosistem meritokratis yang membuat warga beta bertahan, narasi “kalau tidak suka silakan keluar” seolah memberi restu bagi mereka yang frustrasi dengan kondisi sosial-ekonomi. Pada akhirnya, kombinasi antara tingginya biaya pelepasan WNI dan retorika politik yang kaku justru mempertegas pesan pahit: daripada membenahi alasan warganya pergi, negara lebih memilih memungut bayaran saat mereka benar-benar melangkah keluar.
Sikap tegas pemerintah terkait warga yang pesimistis ini sempat ramai diperbincangkan publik, salah satunya dapat disimak lebih lanjut dalam Pidato Tegas Presiden Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan Cari Negara Lain!, yang memuat rekaman pernyataan langsung Presiden mengenai respons terhadap narasi pesimisme nasional.
