SuaraInternasional — Partai puncak Final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife berakhir menyakitkan bagi Timnas Argentina. La Albiceleste tidak hanya harus merelakan trofi juara ke tangan Spanyol usai takluk 0-1 lewat babak perpanjangan waktu, namun juga diwarnai sorotan tajam publik terhadap sang kapten, Lionel Messi.
Pemain berusia 39 tahun tersebut memicu gelombang kritik dari jagat maya dan pengamat sepak bola akibat tindakan dramatisnya yang mendesak wasit mengusir bek Spanyol, Marc Cucurella.
Kronologi dan Tensi Tinggi di MetLife Stadium
Ketegangan mencapai puncaknya menjelang akhir waktu normal dan memasuki babak extra time. Argentina yang harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-90+3 akibat kartu kuning kedua yang diterima Enzo Fernández, berada di bawah tekanan konstan permainan agresif La Furia Roja.
Dalam situasi tertindas tersebut, terjadi perselisihan antara Lionel Messi dan bek kiri Spanyol, Marc Cucurella. Messi memanfaatkan momen benturan untuk menarik perhatian wasit utama asal Slovenia, Slavko Vinčić, sambil dengan gestur tegas menuntut agar Cucurella dijatuhi sanksi kartu merah.
Namun, tinjauan tayangan ulang tidak menunjukkan adanya pelanggaran disengaja maupun provokasi berlebihan dari Cucurella yang menjustifikasi sebuah hukuman. Wasit dan Video Assistant Referee (VAR) pun memutuskan tidak mengambil tindakan lanjutan.
Tinjauan Objektif: Antara Keputusasaan dan Sportivitas
Tindakan Messi langsung mengundang beragam reaksi netizen global. Banyak pihak menilai gestur tersebut menggambarkan bentuk keputusasaan. Sepanjang pertandingan, Messi memang dibuat tak berkutik oleh disiplinnya lini pertahanan Spanyol—tercatat ia hanya menyentuh bola 54 kali dan membuang beberapa peluang transisi.
Kedua tim sejatinya memperlihatkan kontras performa yang mencolok:
• Timnas Spanyol: Tampil dominan dan agresif sepanjang laga, mempertahankan kelengkapan 11 pemain hingga peluit panjang.
• Timnas Argentina: Tertekan, pasif, dan harus bertarung dengan kekosongan lini tengah setelah kartu merah Enzo Fernández di menit ke-90+3.
“Sangat menyedihkan melihat sosok sekelas Messi mencoba membuat lawannya diusir dari lapangan dengan cara seperti itu. Ini bentuk keputusasaan dari Argentina yang tertekan,” tulis salah satu kritik pedas yang viral di media sosial.
Meski demikian, secara objektif dapat dipahami bahwa tensi final Piala Dunia selalu menguji batas emosional pemain. Sebagai pemimpin tim yang bermain minus satu pemain dalam laga sepenting ini, Messi berupaya mencari celah keuntungan sekecil apa pun untuk menyelamatkan timnya dari kekalahan.
Akhir Pahit Sang Legenda
Keharapan Argentina akhirnya sirna pada menit ke-106 ketika penyerang Spanyol, Ferran Torres, berhasil mengonversi peluang menjadi gol tunggal kemenangan.
Hasil ini membawa Spanyol merengkuh trofi Piala Dunia kedua mereka sepanjang sejarah sekaligus mengakhiri penantian 16 tahun sejak edisi 2010. Sementara bagi Lionel Messi, laga ini menjadi panggung perpisahan yang pahit di mana sang superstar harus melangkah keluar lapangan dengan kepala tertunduk tanpa trofi penutup karier internasionalnya.
