SuaraInternasional – Sebuah unggahan visual yang mengatasnamakan citra NASA mendadak gempar di media sosial karena memperlihatkan wujud Bumi yang tidak lagi bundar mulus layaknya kelereng biru, melainkan benjol-benjol, tidak beraturan, dan sekilas menyerupai kentang. Narasi yang beredar liar mengeklaim bahwa gambar tersebut merupakan bentuk asli planet kita tanpa air yang selama ini disembunyikan dari publik. Namun, berdasarkan penelusuran dan verifikasi silang dari data geofisika NASA serta German Research Centre for Geosciences (GFZ) Potsdam, klaim tersebut dipastikan merupakan miskonsepsi visual, sebab gambar yang viral itu bukanlah foto bentuk fisik Bumi secara harfiah melainkan sebuah model matematika bernama geoid atau yang populer di dunia sains dengan sebutan “Potsdam Gravity Potato”.
Geoid sendiri merupakan visualisasi ilmiah yang menggambarkan variasi kekuatan medan gravitasi di berbagai penjuru Bumi, di mana tonjolan berwarna merah menandakan area dengan tarikan gravitasi sedikit lebih kuat sementara cekungan berwarna biru menunjukkan gravitasi yang lebih lemah. Variasi gravitasi ini secara alami terjadi akibat adanya perbedaan kerapatan massa batuan di dalam perut Bumi serta keberadaan struktur geografis seperti gunung dan palung laut. Agar perbedaan tersebut dapat diamati oleh mata manusia, para ilmuwan dari proyek satelit GRACE dan GOCE sengaja memperbesar atau meng-eksagerasi skala perbedaan tinggi-rendah gravitasi itu hingga puluhan ribu kali lipat, padahal selisih aslinya di alam nyata hanya berkisar sekitar seratus meter jika dibandingkan dengan jari-jari Bumi yang mencapai 6.371 kilometer.
Oleh karena itu, jika dilihat langsung dari luar angkasa dengan mata telanjang, wujud fisik Bumi tetaplah bulat mulus dan memesona. Secara presisi geodesi, bentuk fisik planet kita sebenarnya adalah sferoid mampat, yakni sedikit menggelembung di bagian khatulistiwa dan agak pipih di kedua kutubnya akibat rotasi planet. Dengan demikian, narasi yang menyebutkan bahwa Bumi berbentuk kentang penyok adalah keliru, karena visual yang beredar sebenarnya merupakan peta perbedaan gaya tarik gravitasi yang diperbesar untuk kebutuhan riset ilmiah, bukan wujud daratan dan lautan Bumi yang sesungguhnya.
