SuaraInternasional — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa jalur pelayaran vital dunia, Selat Hormuz, akan segera dibuka kembali seiring berlangsungnya negosiasi intensif antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Dalam wawancara dengan Fox News serta keterangan persnya di California pada Selasa (4/8/2026), Trump melayangkan peringatan keras bahwa jika Teheran mangkir dari meja perundingan atau gagal mencapai kesepakatan, militer AS siap melancarkan operasi serangan udara skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Trump bahkan sesumbar telah menyiapkan skenario gempuran udara terbesar sejak era Perang Dunia II, namun memutuskan menundanya secara dramatis setelah pejabat Iran secara langsung menghubungi Washington untuk mengajukan diplomasi.
Ancaman militer ini dibarengi dengan dinamika diplomasi segitiga antara Amerika Serikat, Iran, dan Oman. Berdasarkan sumber pejabat kawasan, skenario kesepakatan sementara (interim deal) berdurasi 60 hari sedang dimatangkan untuk mengatur pembagian alur lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz secara aman dan bebas biaya tol, guna memulihkan kestabilan pasokan energi serta menurunkan harga bahan bakar global. Meski Kementerian Luar Negeri Iran sempat menepis kabar perundingan langsung dengan AS dan mengklaim hanya berkomunikasi via mediator Oman, Trump menegaskan pembicaraan berjalan sangat baik dan memperingatkan bahwa Teheran sama sekali tidak boleh mengembangkan senjata nuklir.
