SuaraInspirasi – Di tengah sunyinya lembah terpencil yang jauh dari pemukiman manusia, Amir bin Abd Qais berdiri tegak menghadap kiblat. Bagi Tabi’in dan ahli ibadah yang dikenal akan keteguhan imannya ini, lembah yang sunyi bukanlah tempat yang menyiutkan nyali, melainkan panggung terbaik untuk mempersembahkan penghambaan paling tulus. Angin malam berembus perlahan, membawa serta keheningan yang menyelimuti seluruh alam saat Amir mulai melantunkan ayat-ayat suci. Jiwanya larut sepenuhnya dalam percakapan dengan Sang Maha Pencipta, hingga dunia di sekitarnya seakan lenyap tanpa sisa.
Namun, keheningan itu mendadak terusik oleh derap langkah berat yang perlahan mendekat dari balik semak belukar. Seekor singa pemangsa yang lapar muncul, matanya menatap tajam ke arah sosok Amir yang sedang berdiri pasrah dalam sholatnya. Tanpa suara, hewan buas itu merayap mendekat hingga akhirnya melompat dan mendaratkan cengkeraman kuku tajamnya tepat di atas pundak Amir. Sentuhan dingin dan cengkeraman maut itu secara naluriah bisa membuat siapapun menjerit ketakutan dan lari menyelamatkan diri. Anehnya, Amir tidak sedikit pun bergeming; nafasnya tetap tenang, tubuhnya berdiri kokoh bagai karang, dan lisannya terus melantunkan firman Allah tanpa ada nada gemetar sedikit pun.
Melihat calon mangsanya sama sekali tidak panik, bertindak responsif, atau menunjukkan rasa takut yang menjadi naluri dasar manusia, sang singa justru tertegun. Ketenangan luar biasa dari hamba Allah itu seakan meruntuhkan insting membunuh hewan buas tersebut. Perlahan namun pasti, singa itu melepaskan cengkeramannya, menurunkan tubuhnya, lalu berbalik dan berlalu pergi menembus kegelapan malam. Ketika ibadah telah usai, rekan-rekan Amir yang menyaksikan peristiwa menegangkan itu menghampirinya dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi. Mereka bertanya dengan heran bagaimana mungkin ia tidak merasa takut sedikit pun saat cengkeraman maut itu berada tepat di pundaknya.
Dengan senyum tipis dan tatapan mata yang memancarkan kedalaman iman, Amir menjawab singkat namun menggetarkan jiwa. Ia mengaku sungguh malu kepada Allah SWT jika di dalam hatinya yang paling dalam, masih tersisa rasa takut kepada makhluk selain Dia. Keberanian dan ketawakalan ini bukanlah hal baru bagi Amir, sebab dalam kesempatan lain saat sebuah kafilah terhenti ketakutan akibat seekor singa yang menghadang jalan, Amir dengan tenang berjalan menghampiri raja hutan itu, memegang telinganya, dan menggesernya pelan dari tengah jalan seolah sedang memindahkan hambatan kecil. Peristiwa-peristiwa ini menjadi bukti abadi bahwa ketika seseorang menyerahkan seluruh rasa takut dan cintanya secara utuh hanya kepada Sang Pencipta, maka seluruh alam semesta akan tunduk menaruh hormat padanya.
