SuaraInternasional — Ledakan bom bunuh diri mengguncang aksi demonstrasi yang tengah berlangsung di kawasan distrik darurat Quetta, Provinsi Balochistan, Pakistan, pada Senin (3/8/2026) pagi. Serangan mendadak yang menyasar kerumunan ribuan partisipan unjuk rasa tersebut mengakibatkan sedikitnya 14 orang tewas di tempat dan lebih dari 30 orang lainnya luka-luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Menurut laporan tim kepolisian dan otoritas setempat, pelaku bom bunuh diri berjalan menerobos barisan pengamanan massa sebelum akhirnya meledakkan rompi berisi bahan peledak berdaya ledak tinggi (high explosive) di tengah-tengah konsentrasi kerumunan warga. Kepulan asap tebal dan kepanikan luar biasa seketika membubarkan aksi damai tersebut, sementara raungan sirene ambulans terus meraung membawa para korban ke Civil Hospital Quetta untuk penanganan medis darurat.
Elaborasi dari berbagai sumber keamanan Pakistan mengungkapkan bahwa lokasi unjuk rasa tersebut sejatinya dijaga ketat oleh aparat kepolisian dan personel paramiliter Frontier Corps. Kendati demikian, tingkat kerawanan keamanan di Provinsi Balochistan memang terus meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir akibat eskalasi konflik antara pemerintah pusat dan kelompok separatis serta militan lokal, seperti Baloch Liberation Army (BLA) dan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab secara resmi atas insiden berdarah tersebut. Pemerintah Provinsi Balochistan langsung menetapkan status siaga satu di seluruh wilayah Quetta, memperketat pemeriksaan di setiap titik perbatasan kota, serta menginstruksikan tim penyelidik gabungan untuk menyisir sisa-sisa material peledak guna mengungkap identitas jaringan di balik aksi teror maut ini.
